About Me

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia

Sabtu, 23 Februari 2013

TECHNOPRENEURSHIP is OPPORTUNITY CREATION

Judul diatas saya peroleh ketika saya membaca sebuah majalah Business Opportunity yang sedang mewawancarai Ir. Ciputra (Pengusaha sekaligus pemrakarsa kampus-kampus entrepreneurship di Indonesia). Beliau menerangkan bahwa seorang entrepreneur itu dalam tingkatan tertinggi adalah ketika dia bisa mencipta peluang atau opportunity. Ada tiga tahapan dalam pengertian opportunity, yang pertama adalah opportunity recognition yaitu sebuah proses yang menyadari bahwa permintaan sudah sangat jelas demikian juga dengan suplai. Yang kedua opportunity seeking yaitu suplai sudah jelas sementara permintaan belum jelas. Dan yang terakhir adalah opportunity discovery yaitu ketika kondisi sebaliknya terjadi ketika permintaan begitu tinggi tetapi belum  terlayani oleh suplai. Maka deifinisi entrepeneruship mengacu pada opportunity creation yaitu ketika permintaan dan suplai belum jelas, artinya permintaan dan suplai yang belum jelas akan menimbulkan peluang-peluang yang bisa dijadikan usaha. Sehingga penciptaan peluang adalah merupakan ketrampilan tertinggi.
Bagaimana dengan technopreneurship? Technopreneurship adalah juga merupakan wirausaha yang memanfaatkan teknologi sebagai tools untuk melakukan atau menciptakan peluang, khususnya dalam penggunaan teknologi informasi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh sebuah kecanggihan teknologi yang berkembang begitu cepat, salah satu diantaranya penciptaan bisnis online. Bisnis online adalah sebuah penciptaan dimana peluang perkembangan IT benar-benar bisa dimanfaatkan. Pasar yang begitu besar dan tren dari penggunaan teknologi yang semakin meningkat di masyarakat adalah sebuah peluang yang harus dimanfaatkan. Di Indonesia penggunaan teknologi informasi saat ini merupakan salah satu penunjang sukses dari sebuah bisnis, artinya jika perusahaan-perusahaan itu memanfaatkan teknologi maka perusahaan itu akan tambah berkembang dan tumbuh. Bukan lagi khusus untuk pengembangan teknologi sebagai bisnisnya tapi lebih cenderung sebagai media untuk penunjang bisnis.
Jika menilik dari pengertian technopreneurship, bahwa bisnis yang khusus membuat komputer misalnya dia akan mengembangkan untuk membuat aksesoris-aksesories yang lainnya, mulai pendingin komputer,mouse yang berwarna-warni , pembuatan tas-tas laptop yang full design, dan yang lain sebagainya. Ambil contoh lagi adalah Google, perusahaan yang dulunya hanya berkecimpung dibidang search engine atau mesin pencari utama di dunia maya belakang ini mulai pengembangan software android, kemudian mulai merambah sisi hardwarenya dengan berkolaborasi dengan perusahaan hardware ternama. Inilah sebenarnya peluang yang ada di technopreneurship yang memanfaat penelitian sebagai peluang yang sesungguhnya sehingga bisa dijadikan sebuah bisnis yang maju. Pemanfaatan teknologi sebagai syarat utama disebut technopreneurship bisa kita lihat juga dalam bisnis perparkiran yang ada di mall ataupun diintansi pemerintah yang ramai dikunjungi oleh masyarakat misalnya rumah sakit. Bagaimana dia full menawarkan teknologi sebagai solusi untuk mengatasi manajemen perparkiran kendaraan bermotor, memanfaat sistem informasi parkir, kemudian memanfaat cctv dan lain sebagainya sehingga jasa layanan parkir menjadi lebih tertata, aman dan nyaman. Sehingga manajemen parkir akhirnya bisa difranchise kan. Kemudian technopreneurship dibidang perbankan adalah penggunaan teknologi yang ada di ATM-ATM bank, bagaimana ia membuat sistem informasi yang benar-benar aman kemudian dia pasangkan di mesin ATM, kemudian ditawarkan lagi sistem yang sudah jadi tersebut ke bank-bank yang lainnya akhirnya ada yang disebut jaringan ATM LINK dan jaringan ATM PLUS. Dan hal ini menjadi sebuah tren bisnis technopreneurship di bidang perbankan. Dan ada banyak lagi contoh technopreneurship yang berkembang di berbagai bidang.
Bagaimana technopreneurship itu bisa diterapkan sebagai sebuah bisnis.
Einstain mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan itu sendiri karena pengetahuan meliputi yang kita tahu sementara imajinasi termasuk kita tahu maupun yang tidak kita tahu. Sehingga kunci kreativitas adalah kunci untuk mendorong inovasi seseorang sehingga melatih kreativitas sebagai sebuah isu utama. Belajarlah kreativitas, belajarlah berinovasi dari yang ter kecil sampai yang besar. Artinya menguasai bidang keahlian tertentu bukan saja hanya untuk keperluan research tapi yang lebih penting adalah keahlian itu bisa menopang kehidupan kita sehingga tidak perlu lagi harus bergantung pada seseorang yang bisa menggaji kita, sehingga beban negara ini akan berkurang seiring banyak penduduknya yang bisa berusaha sendiri.
Tidak semua hasil penelitian bisa masuk dan di terima oleh pasar, hal ini tidak terlepas bahwa sebuah produk yang di jual di masyarakat luas adalah hasil daripada kerjasama sebuah tim yang lengkap. Begitu juga teknologi yang sekarang sedang berkembang, tidak semuanya bisa dijual atau bahkan di manfaatkan, karena ada proses yang namanya validasi alami apakah sebuah teknologi diperlukan oleh masyarakat banyak atau tidak. Jadi kunci dari sebuah bisnis yang memanfaatkan teknologi adalah bagaimana teknologi itu bisa sosialisasikan sebagai sebuah kebutuhan masyarakat dan ini diperlukan seorang penjual yang hebat yang bisa membuat sebuah teknologi menjadi ada nilai produk. Inovasi yang akan menjadi sia-sia jika tidak ada seorang yang hebat berbicara bahwa produk ini ada sebuah nilai

Rabu, 25 Juli 2012

PEMANFAATAN LANGSUNG TEKNOLOGI INFORMASI DALAM DAKWAH ISLAM



Teknologi informasi dewasa ini berkembang begitu cepat, seakan semua ilmu pengetahuan juga ikut berkembang mengikuti kecepatan perkembangan teknologi informasi, dan ini wajar karena pengembangan untuk teknologi informasi terus menerus dilakukan dengan memanfaatkan semua ilmu pengetahuan yang ada. Dalam dunia Islam pemanfaatan teknologi informasi seringkali dilakukan dan salah satunya adalah digunakan untuk berdakwah. Dewasa ini dunia dakwah seringkali menggunakan teknologi informasi untuk mempermudah komunikasi langsung antara jamaah dan nara sumber. Belum lagi yang memanfaatkan multimedia agar dakwahnya lebih interaktif. Hal ini bisa kita jumpai model dakwah seperti ESQ (Emotional Spiritual Quotient), dimana teknologi sangatlah dominan. Data penggunaan teknologi informasi sebagai media dakwah juga terlihat terlihat dari pegguna fitur-fitur Islami yang bisa diakses lewat internet, data statistik (Effective Measure) pengguna internet di Indonesia mencapai 39.100.000 (peringkat 8 dunia) jika diambil prosentase 50% saja yang meng akses fitur Islami maka 20 juta orang yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai media dakwah baik secara kelompok maupun secara individual. Dan pemanfaatan teknologi informasi dalam dunia dakwah akan meningkat ketika ada momen seperti bulan ramadhan.

Kata kunci : Teknologi Informasi, Islam, dakwah.

Abstract

Information technology is evolving so fast these days, like all science also changes following the pace of information technology development, and this is simply due to the development of information technology continue to be done by making use of all existing science. In the world of Islam is often made ​​use of information technology and one of them is used to preach. Today the world of preaching often use information technology to facilitate direct communication between the congregation and resource persons. Not to mention the use of interactive multimedia to further his message. This mission can we find a model like ESQ (Emotional Spiritual Quotient), which is the dominant technology. Data on the use of information technology as a medium of propagation is also seen seen from pegguna Islamic features that can be accessed via the internet, the statistics (Effective Measure) internet users in Indonesia reached 39.1 million (8 world ranking) if taken alone the percentage of 50% to access Islamic features of the 20 million people who use information technology as a medium of preaching both corporately and individually. And utilization of information technology in the world of preaching will
increase when there are moments like the Ramadan month.

Keywords: Information technology, islam, preaching.

Pendahuluan
Dalam kurun waktu 10 tahun penduduk dunia bertambah dengan cepatnya, hal ini juga berlaku bagi negera-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Kalo kita bandingkan perkembangan penduduk yang mayoritas muslim pada pertengahan tahun 1970 an yang hanya berjumlah total sekitar 500 juta orang, dengan jumlah penduduk muslim diseluruh dunia saat ini yang mencapai 1,5 milyar artinya setiap dari empat orang di dunia ini maka satunya adalah orang yang memeluk agama Islam atau seorang muslim. Peningkatan jumlah pemeluk Islam ini bukan semata-mata merupakan pertambahan penduduk di negara-negara yang mayoritas muslim itu bertambah tetapi juga dikarenakan faktor mualaf yang semakin bertambah banyak. Artinya faktor dakwah merupakan sarana produktif untuk mengajak semua orang di dunia ini untuk mengenal lebih jauh dengan Islam. Walaupun faktor 11 September 2002 adalah merupakan pemicu bertambahnya mualaf yang masuk ke agama Islam, dan hal ini juga banyak dikarenakan teknologi informasi yang begitu mudah di akses dan dinikmati, hingga semakin mudah mempelajari Islam secara keseluruhan.
Masuk Islam dengan terlebih dahulu mempelajarinya adalah faktor terbanyak penambah jumlah pemeluk muslim dunia, dan apalagi didukung oleh teknologi yang berkembang cepat. Ilmu pengetahuan adalah merupakan sarana yang paling rasional untuk mempelajari Islam dengan benar, dan hal ini telah di firmankan oleh Allah SWT : “ Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. azumar : 9)”.
   Dalam sebuah hadist Rasulullah juga menerangkan tentang keutamaan menggunakan atau menguasai ilmu pengetahuan atau teknologi yaitu ; Rasulullah saw pun memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. “ Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap Muslimin, Sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu (HR. Ahmad)”.  Dan pada jaman sahabat pun sudah ada perkataan yang luar biasa maknanya, yaitu perkataan dari Ali bin Abu Tholib “Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini “. Luar biasa karena jaman dahulu pun mendidik dan perlunya menguasai sesuatu keahlian yang beda jaman sudah menjadi perhatian oleh para sahabat maupun Rasulullah sendiri.
    Dakwah adalah merupakan kewajiban setiap muslim karena ini merupakan tugas pokok bagi seorang yang telah mengaku berikrar kepada Allah dan Rasul-Nya  Dan hal ini seperti di firmankan Allah SWT : “ Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling (QS. Al Baqarah : 83)”.
   Tentu kita semuanya ingat tentang kejadian atau peristiwa 11 September 2002 dimana semuanya terhenyak dengan diledakkannya kantor pusat perdagangan saham terbesar di dunia yaitu gedung world trade centre (WTC) di Amerika Serikat, dengan Islam sebagai tertuduh utama maka mau tidak mau orang Muslim di dunia dianggap sebagai ekstrimis semuanya, tetapi Allah SWT dengan kekuasaannya merubah itu semuanya sebagai bagian bahwa Dialah pelindung utama agama Islam. Dengan adanya teknologi informasi yang begitu canggih dan bisa dinikmati oleh semua orang seantero dunia, yang begitu gencar memberitakan Islam sebagai hot news, maka secara tidak langsung itu membantu dakwah Islam untuk tersampaikan ke semua orang di dunia. Walaupun sebenarnya kebenaran pengebom WTC sampai kini belum diketahui secara transparan oleh publik dunia. Stigma yang negatif bisa dirubah menjadi positif dengan memanfaatkan teknologi informasi, dan sebaliknya juga stigma positif bisa menjadi negatif jika sudah masuk dan diolah oleh teknologi informasi, seperti proses yang terjadi dalam teknologi informasi. Jadi tergantung siapa penguasa teknologi informasi dunia karena stigma apapun akan bisa di ubah, teknologi informasi bukan saja hanya sebagai teknologi semata tetapi lebih daripada itu adalah sebagai media penyebar informasi yang sangat efektif.

Pembahasan
Agama vs Saintek (Science & Technology)
Di Eropa, sejak abad pertengahan, timbul konflik antara ilmu pengetahuan (sains) dan agama (gereja). Dalam konflik ini sains keluar sebagai pemenang, dan sejak itu sains melepaskan diri dari kontrol dan pengaruh agama, serta membangun wilayahnya sendiri secara otonom. Dalam perkembangannya lebih lanjut, setelah terjadi revolusi industri di Barat, terutama sepanjang abad XVIII dan XIX, sains bahkan menjadi “agama baru” atau “agama palsu”(Pseudo Religion). Dalam kajian teologi modern di Barat, timbul mazhab baru yang dinamakan “saintisme” dalam arti bahwa sains telah menjadi isme, ideologi bahkan agama baru.
Namun sejak pertengahan abad XX, terutama setelah terjadi penyalahgunaan iptek dalam perang dunia I dan perang dunia II, banyak pihak mulai menyerukan perlunya integrasi ilmu dan agama, iptek dan imtak. Pembicaraan tentang iptek mulai dikaitkan dengan moral dan agama hingga sekarang sehubungan dengan semakin merajalelanya teknologi yang hanya berdasar hanya pada materi sehingga manusia pun dijadikan sebuah percobaan (kasus kloning). Dalam kaitan ini, keterkaitan iptek dengan moral (agama) di harapkan bukan hanya pada aspek penggunaannya saja (aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontologi) dan metodologi (epistemologi)-nya sekaligus. Di Indonesia, gagasan tentang perlunya integrasi pendidikan imtak dan teknologi ini sudah lama digulirkan. Profesor B.J. Habibie, adalah orang pertama yang menggagas integrasi imtak dan iptek ini. Hal ini, selain karena adanya problem dikotomi antara apa yang dinamakan ilmu-ilmu umum (saintek) dan ilmu-ilmu agama (Islam), juga disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pengembangan iptek dalam sistem pendidikan kita tampaknya berjalan sendiri, tanpa dukungan asas iman dan takwa yang kuat, sehingga pengembangan dan kemajuan iptek tidak memiliki nilai tambah dan tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan dan kemaslahatan umat dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Kekhawatiran ini, cukup beralasan, karena sejauh ini sistem pendidikan kita tidak cukup mampu menghasilkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana diharapkan. Berbagai tindak kejahatan sering terjadi dan banyak dilakukan justru oleh orang-orang yang secara akademik sangat terpelajar, bahkan mumpuni. Ini berarti, aspek pendidikan turut menyumbang dan memberikan saham bagi kebangkrutan bangsa yang kita rasakan sekarang. Kenyataan ini menjadi salah satu catatan mengenai raport merah pendidikan nasional kita. Begitu juga pendidikan yang hanya mementingkan aspek agama saja akan menjadikan dunia tidak pada tempatnya atau penyalahgunaan wewenang akan semakin banyak dikarenakan kekurangpahaman tentang ilmu terapan atau teknologi. Karena etika moral akan efektif jika diterapkan pada aplikasi keilmuan terapan karena ilmu tersebut akan diterapkan secara praktis dalam dunia kerja sehingga integrasi adalah hal yang mungkin untuk dilakukan.

1.                       Perlunya Penguasaan Teknologi Informasi
Sudah menjadi pengetahuan umum (common sense) bahwa dasar dari peradaban modern adalah teknologi. Teknologi merupakan dasar dan pondasi yang menjadi penyangga bangunan peradaban modern barat sekarang ini. Masa depan suatu bangsa akan banyak ditentukan oleh tingkat penguasaan bangsa itu terhadap teknologi. Suatu masyarakat atau bangsa tidak akan memiliki keunggulan dan kemampuan daya saing yang tinggi, bila ia tidak mengambil dan mengembangkan teknologi. Bisa dimengerti bila setiap bangsa di muka bumi sekarang ini, berlomba-lomba serta bersaing secara ketat dalam penguasaan dan pengembangan teknologi. Karena dunia secara teknologi informasi berbentuk datar, sehingga sisi dunia akan tampak semua oleh penghuninya. Dan penguasaan teknologi informasi wajib dilakukan oleh umat Islam karena  beberapa hal :
a.                        Karena pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan berasal dari sumber-sumber negara Islam yang telah dibawa oleh negara-negara barat. Dan tentunya ini juga merupakan perintah Allah SWT : “ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS al Mujaadilah : 11) ”.
b.                       Karena Allah akan memberikan kearifan dan juga ketentraman kepada siapa saja yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar umat muslim tidak bergantung kepada dunia barat (umat lain), agar juga bisa membuat solusi-solusi terhadap persoalan umat. Salah satu contoh adalah ketika umat Islam bisa merencanakan pemetaan zakat untuk mengentaskan kemiskinan dengan memanfaat sistem informasi geografis (GIS). Umat Islam menguasai teknologi maka akan ada rasa damai dikalangan semua umat didunia. Berikut ini disebutkan dalam al Quran : “Allah berikan al-Hikmah (Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat dan kearifan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, benar-benar ia telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (berdzikir) dari firman-firman Allah.” (QS. Al Baqarah : 269) “ .
c.                        Penguasaan teknologi Informasi akan membuat umat Islam untuk selalu mengetahui informasi terkini dan tidak gampang untuk dipecah belah oleh umat lain. Sehingga dengan menguasai teknologi informasi akan mendekatkan persatuan dan kesatuan umat. Dan yang paling penting peringatan Nabi Muhammad lewat hadits yang beliau ucapkan 14 abad yang lalu mengenai setiap zaman adalah berbeda, artinya antara zaman kita dengan anak cucu kita akan berbeda karena perubahan semakin cepat. Rasulullah SAW pun memerintahkan kepada kaum muslimin seluruhnya untuk senantiasa menuntut ilmu dan menguasai ilmu itu sendiri, dalam hadist “Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai), atau orang yang belajar, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka (H.R. Baihaqi). Dalam sebuah hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencali ilmu akan memintakan bagi mereka siapa-siapa yang ada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil bagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bagian yang besar (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah). Para sahabat pun sudah sejak dulu selalu mengutamakan pendidikan terhadap keturunannya, seperti perkataan Ali bin Abi Thalib ini “ Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini ” .
2.                       Integrasi Teknologi dan Dakwah Islam
   “Barangsiapa ingin berjaya di dunia, maka wajib baginya menguasai ilmu; barangsiapa ingin berjaya di kehidupan akhirat maka wajib baginya menguasai ilmu; barangsiapa ingin berjaya di dunia dan akhirat, maka wajib baginya menguasai ilmu (HR. Al Bukhari) “.
   Perubahan lingkungan yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, harus diakui telah memberikan kemudahan terhadap berbagai aktifitas dakwah Islam. Di sisi lain, memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku khususnya para pelajar dan generasi muda kita, dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru yang cenderung menjauh dari nilai-nilai spiritualitas. Dakwah Islam memang harus sudah selayaknya untuk dibuat semenarik mungkin (interaktif) dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat yang utama. Dari sisi positif, perkembangan teknologi telah memunculkan kesadaran yang kuat pada sebagian pelajar kita akan pentingnya memiliki keahlian dan keterampilan. Utamanya untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, dalam rangka mengisi era milenium ketiga yang disebut sebagai era informasi dan era bio-teknologi. Ini sekurang-kurangnya telah memunculkan sikap optimis, generasi pelajar kita umumya telah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan itu.
Don Tapscott, dalam bukunya (Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World, 2009 hal 81), telah melakukan survei terhadap para remaja di berbagai negara. Ia menyimpulkan, ada sepuluh ciri dari generasi nol (zero), yang akan mengisi masa tersebut. Ciri-ciri itu, para remaja umumnya memiliki pengetahuan memadai dan akses yang tak terbatas. Bergaul sangat intensif lewat internet, cenderung inklusif, bebas berekspresi, hidup didasarkan pada perkembangan teknologi, sehingga inovatif, bersikap lebih dewasa, investigative arahnya pada how use something as good as possible bukan how does it work. Mereka pemikir cepat (fast thinker), peka dan kritis terutama pada informasi palsu, serta cek ricek menjadi keharusan bagi mereka.
Sikap optimis terhadap keadaan sebagian generasi muda ini tentu harus diimbangi dengan memberikan pemahaman, arti penting mengembangkan aspek spiritual keagamaan dan aspek pengendalian emosional. Sehingga tercapai keselarasan pemenuhan kebutuhan otak dan hati (qolbu). Penanaman kesadaran pentingnya nilai-nilai agama memberi jaminan kepada para remaja akan kebahagiaan dan keselamatan hidup, bukan saja selama di dunia tapi juga kelak di akhirat.
   Ada banyak hal yang sudah dihasilkan oleh teknologi untuk dakwah Islam sebagai bagian dari integrasi itu sendiri, al Quran digital, akses hadits shahih yang bisa dilakukan dimana saja,silahturahmi yang tidak pernah putus karena sudah ada handphone, jejaring sosial dan sebagainya. Bahkan media pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan game untuk memperdalam ilmu Islam itu sendiri.
Contoh dari Teknologi Informasi yang dimanfaatkan untuk dakwah Islam :
Gambar 1 : Al Qur an Digital (sumber : myquran.com)
A description...





Gambar 2 : Game baca huruf hijaiyah (sumber software game hijaiyah)
A description...




Gambar 3 :  Aplikasi GIS Masjid (sumber : sofware aplikasi GIS)
A description...

3.                       Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sarana pemecahan masalah mendasar setiap peradaban. Ia adalah ungkapan fisik dari world view di mana dia dilahirkan. Maka kita bisa memahami mengapa di Jepang yang kabarnya sangat menghargai nilai waktu demikian pesat berkembang budaya “pachinko” dan game. Tentu disebabkan mereka tak beriman akan kehidupan setelah mati, dan tak mempunyai batasan tentang hiburan. Kini umat Islam hanya sebagai konsumen sains yang ada sekarang. Kalaupun mereka ikut berperan di dalamnya, maka secara umum mereka tetap di bawah kendali pencetus sains tersebut. Ilmuwan-ilmuwan muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi eksak apalagi non-eksak untuk menopang kepentingan khusus umat Islam. Dunia Islam mulai bangkit (kembali) memikirkan kedudukan sains dalam Islam pada dekade 70-an. Pada 1976 dilangsungkan seminar internasional pendidikan Islam di Jedah. Dan semakin ramai diseminarkan di tahun 80-an.
Secara umum, dikenal 4 kategori pendekatan sains Islam (Dr. Maurice Bucaille, “ Bibel, Al quran dan Sains Modern”, Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hal : 3) :
1.                       I’jazul Quran (mukjizat al-Quran)
I’jazul Quran dipelopori Maurice Bucaille yang sempat “ boom ” dengan bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (edisi Indonesia: “Bibel, al Quran dan Sains Modern“). Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat al Quran. Hal ini kemudian banyak dikritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap al Quran sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap al Quran juga bisa berubah.
2.                       Islamization Disciplines
Yakni membandingkan sains modern dan khazanah Islam, untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuwan muslim. Penggagas utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dalam bukunya yang terkenal, Islamization of Knowledge, 1982. Ide Al-Faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington (1981), yang merupakan lembaga yang aktif menggulirkan program seputar islamisasi pengetahuan.
Rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan:
1. Penguasaan disiplin ilmu modern.
2. Penguasaan warisan Islam.
3. Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.
4. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan
    Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan
    umat manusia seluruhnya).
5.      Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah.
6. Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin
    ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan
    Islam.
·  Membangun Teknologi Informasi Islami
Ide ini ditujukan untuk membentengi atau menghadapi kompetitor teknologi informasi yang tidak Islami. Misalkan bagaimana kita harus mem blok teknologi informasi yang berbau pornografi atau bagaimana kita membangun teknologi informasi anti korupsi yang bisa diterapkan dalam pemerintahan. Dan yang paling penting adalah membangun sumber daya manusia ahli TI yang paham akan kebutuhan teknologi informasi yang Islami.
·  Menggali Epistimologi Sains Islam (murni).
Epistimologi sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam, dan dari sinilah dibangun teknologi dan peradaban Islam. Dipelopori oleh Ziauddin Sardar, dalam bukunya: “Islamic Futures: “The Shape of Ideas to Come” ” (1985).
Sardar mengkritik ide al-Faruqi dalam bukunya (Ziauddin Sardar, Masa Depan Islam, Pustaka, Bandung,1987, hal: 51), yang dapat di simpulkan menjadi dua hal penting :
Ø   Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.
Ø   Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.
Islamisasi teknologi tidak akan pernah berhasil jika tidak ada keselarasan antara keduanya artinya teknologi tidak bisa dipaksa untuk terus menuruti aturan-aturan dalam Islam. Karena teknologi juga butuh ekspansi untuk bisa berkembang dengan melalui pengujian-pengujian dalam seluruh aspek tidak dalam satu arah kebijakan. Keselarasan ini juga harus didukung oleh kaum agamis untuk bisa belajar tentang teknologi artinya “melek teknologi”, tidak harus masuk secara dalam mempelajari teknologi tetapi mengerti sedikit dan tahu karakter teknologi akan sangat membantu dalam islamisasi teknologi. Saya kira hal ini tidak terlalu berlebihan karena inilah dakwah sesungguhnya, dakwah yang selalu dua arah dan tidak satu arah. Pemaksaan hanya akan menimbulkan kesenjangan dan pertanyaan yang tidak bisa memberikan kontribusi kepada integrasi teknologi dan Islam.

Penutup
Kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang luar biasa. Bahkan Eropa pun seolah-olah tidak berdaya menghadapi kemajuan Islam terutama di bidang teknologinya pada waktu itu. Sekarang kemajuan teknologi dikuasai oleh barat, dan kita sebagai mayoritas penduduk muslim terbesar dunia hanya sebagai penikmat atau sebagai konsumen dari teknologi yang mereka kembangkan. Adalah hal yang mungkin jika kita semuanya berkolaborasi menciptakan keselarasan untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk menjadi senjata dalam dakwah Islamiyah.
Tidak perlu berlama-lama dalam menciptakan integrasi teknologi dalam dakwah Islam karena sebenarnya sifat dari teknologi informasi itu adalah menyesuaikan keinginan dari konsumen yang akan menikmatinya. Islamisasi teknologi informasi adalah merupakan hal yang seharusnya bisa kita nikmati tanpa harus menimbulkan konflik diantara sesama muslim. Karena sebenarnya teknologi itu sudah ada di dalam Islam itu sendiri.

Daftar Pustaka
1.         DR. Ahmad Hatta, 2009, Al Qur an dan Terjemahan Per Kata, Jakarta : Maghfirah Pustaka.

2.         Don Tapscott, 2009, Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World, McGraw Hill.

3.         Ziauddin Sardar, 1987, Masa Depan Islam, Bandung, Pustaka.
4.         Mohammad Nejatullah Siddiqi, Islamization of Knowledge: Reflectionson Priorities, (The American Journal of Islamic Social Sciences - AJISS), volume 28, issue 3.



-

PEMETAAN MODEL TATA KELOLA PENGAWASAN PROYEK TEKNOLOGI INFORMASI



Data terbaru sesuai penelitian Gartner yang dipublikasikan oleh ERP Global Report tahun 2010. Dalam publikasi tersebut Gartner mengemukakan beberapa tentang proyek investasi dibidang IT khususnya ERP, yaitu 57% proyek ERP gagal memenuhi target waktu, 54 % diantaranya menghabiskan lebih dari batas anggaran yang ditetapkan. 41% dari keseluruhan proyek ERP yang diteliti ternyata tidak dapat memenuhi target manfaat bisnis yang dijanjikan dan 47% lainnya bahkan mengalami kegagalan operasional pada saat sistem telah dijalankan. Dan hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar sehingga mengganggu aktifitas proses bisnis dan finansial perusahaan.
Untuk mengantisipasi itu semua maka diperlukan sebuah metode pengawasan secara menyeluruh, bukan saja sebagai pengawas proyek ketika proyek IT berlangsung, tetapi pengawasan yang bersifat menyeluruh mulai awal akan di lakukan inisialisasi proyek sampai ketika proyek berlangsung, kemudian proyek itu siap di implementasikan sebagai sebuah sistem baru di perusahaan. Pengawasan proyek IT secara menyeluruh tentu dimaksudkan untuk mengurangi indikasi resiko gagal yaitu memenuhi target waktu, biaya yang dikeluarkan lebih besar dari anggaran yang ditetapkan, kualitas dari proyek IT yang dihasilkan tidak sesuai kebutuhan perusahaan dan proyek IT yang ter-implementasi tidak dapat memenuhi target manfaat bisnis sebagaimana yang dijanjikan bagi perusahaan. Tata kelola ini juga berfungsi untuk memetakan fungsi-fungsi mana saja dalam sebuah proyek IT yang memerlukan penekanan khusus dalam sebuah proses pekerjaan, sehingga perusahaan akan terhindar dari sebuah kerugian proyek yang belum terlihat.


Key word : pengawasan proyek, investasi IS/IT, resiko gagal,tata kelola.












1.                  Pendahuluan

Proyek teknologi informasi yang dikembangkan ataupun berkembang di perusahaan maupun di institusi selama ini sering hanya berlatar pada framework acitivities (penekanan bagaimana software berhasil dibuat) sehingga banyak sekali aplikasi yang telah dibuat pada akhirnya menjadi sampah teknologi khususnya software yang akhirnya menjadi beban tersendiri bagi perusahaan atau institusi yang telah investasi banyak. Penekanan yang dilakukan oleh perusahaan pembuat software seringkali akan menjadi beban di kemudian hari bagi perusahaan pemilik proyek IT itu, hal ini disebabkan adanya pemaksaan untuk dilakukan pembuatan sistem tanpa melihat secara jauh bahwa sistem tersebut akan mempengaruhi budaya perusahaan itu sehingga secara kinerja akan mempengaruhi perusahaan dalam memperoleh profit atau secara bahasa ekonomi mengacaukan proses bisnis yang sedang berlangsung.
Salah satu contoh yang sekarang ini sedang banyak kasus adalah tentang pembuatan website. Website yang di buat menjadi tidak berguna ketika ternyata sifat website tersebut hanya statis atau hanya berisi informasi saja, tanpa kemudian bisa dimanfaatkan untuk proses menunjang bisnis perusahaan. Kesalahan terbesar awal pembuatan website adalah ketika perusahaan tersebut hanya ingin tampil di dunia maya atau memiliki alamat di dunia maya, tanpa kemudian mempertimbangkan investasi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Dan hal ini membuat perusahaan juga kehilangan momentum profit dari pemanfaatan teknologi informasi.
Hasil survey Gatner pada tahun 2010 menyebutkan kegagalan proyek entreprise teknologi informasi menunjukkan prosentase tertinggi yaitu 57% adalah terletak pada kegagalan dalam memenuhi batas waktu yang sudah ditetapkan, kemudian disusul oleh masalah anggaran yang terlalu melebihi batas (54%), dan yang terakhir adalah proyek entreprise IT/IS tidak bisa memberikan keuntungan buat perusahaan dan bahkan proyek yang telah berhasil dibuat tidak bisa diterapkan dalam perusahaan tersebut (41%).
Dari paparan hasil survei itu membuktikan bahwa tata kelola pengawasan proyek teknologi informasi yang dilakukan hanya terletak pada ketika proyek sedang berlangsung saja, artinya tata kelola pengawasan hanya terletak pada fase pengerjaan proyek teknologi informasi yang sedang dikerjakan, sedang fase yang lain atau pada aktifitas atau yang biasa disebut umbrella activities tidak dikerjakan sebagaimana mestinya.
Proses pelaksanaan pekerjaan dilapangan diperlukan satu mekanisme pengawasan agar pelaksanaan proyek berjalan sesuai dengan perencanaan yang ada dan juga segala perubahan yang diperlukan jika seandainya ada  akan bisa dilakukan penyes uaian dengan cepat dan akurat. Dengan perencanaan proyek yang baik, diharapkan bisa memberikan peringatan sejak dini bahwa proyek yang sedang dikerjakan menghadapi hambatan – hambatan sehingga secepatnya bisa dikomunikasikan dengan semua pihak.

2.                  METODE
2.1.  Tahapan Pengawasan, Proses Pengawasan IT Project
Menurut Robert J. Mockler (dalam bukunya The Management Control Process, Prentice Hall, Englewood Cliffs,1972, halaman 2) pengawasan adalah usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien. Dalam proses perancangan pengawasan  menurut Willian H. Newman (dalam bukunya Constructive Control, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New York, 1975, halaman 12-25) disebutkan bahwa diperlukan lima jenis pendekatan yaitu ;
1.      Merumuskan hasil yang diinginkan, yang dihubungkan dengan individu yang melaksanakan.
2.      Menetapkan penunjuk, dengan tujuan untuk mengatasi dan memperbaiki penyimpangan sebelum kegiatan diselesaikan, yaitu dengan
a.      pengukuran input
b.      hasil pada tahap awal
c.       gejala yang dihadapi
d.      kondisi perubahan yang diasumsikan
3.      Menetapkan standar penunjuk dan hasil, dihubungkan dengan kondisi yang dihadapi.
4.      Menetapkan jaringan informasi dan umpan balik, dimana komunikasi pengawasan didasarkan pada prinsip manajemen by exception yaitu atasan diberi informasi bila terjadi penyimpangan dari standar.
5.      Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi, bila perlu suatu tindakan diganti.

2.2.Tahapan Pengawasan
Tahapan pengawasan adalah merupakan proses untuk menetapkan pengawasan proyek teknologi informasi, sehingga perjalanan pengawasan akan menjadi terstruktur dan terorganisasi dengan baik. Tahapan pengawasan ini meliputi beberapa hal yaitu tahap penetapan standar (patokan yang dijadikan untuk pengambil keputusan biasanya meliputi standar fisik, biaya, waktu), tahap penentuan pengukuran pelaksanaan proyek, tahap pengukuran pelaksanaan proyek (proses yang berulang-ulang dan kontinue, berupa pengamatan,laporan, metode, pengujian dan sampel), tahap pembanding pelaksaan dengan standar dan analisa penyimpangan, tahap pengambilan tindakan koreksi.
Penetapan tahapan pengawasan dapat digambarkan sebagai berikut;
Gambar 1 : Proses Pengawasan
Gambar 2 : Bagian – bagian dalam siklus pengawasan
2.3.Proses Pengawasan IT Project
Proses adalah mekanisme yang menggambarkan proses pengambilan dan pengawasan keputusan strategis Teknologi Informasi (Grembergen, De Haes & Guldentops, 2004). Beberapa mekanisme proses yang umum atau ada dalam tata kelola TI adalah sebagai berikut : Tracking of IT Projects and resources consumed, service-level agreements, formally tracking business value of IT, charegerback arrangements (Weill & Ross, 2004). Pertama adalah proses persetujuan investasi TI. Proses ini bertujuan untuk menjamin bahwa investasi TI menciptakan hasil yang berarti bagi perusahaan dibanding dengan peluang investasi yang lain. Banyak perusahaan merumuskan proses persetujuan investasi untuk menjamin ide-ide kreatif dan prioritas strategis dipertimbangkan dalam keputusan investasi. Kedua Project Tracking Process. Sebuah langkah penting dalam implementasi tata kelola TI adlah menciptakan disiplin untuk mengikuti perkembangan dari proyek-proyek TI. Beberapa toola yang biasa digunakan oleh perusahaan untuk melakukan project tracking, salah satunya adalah Dashboard. Ketiga Formal Tracking of Business Value Process, kebanyakan tantangan dari tata kelola TI yang efektif berasal dari sulitnya untuk mengkaji nilai TI. Pengambil keputusan TI akan membuat keputusan yang efektif apabila mereka mengerti dengan baik nilai yang perusahaan dapat dari TI. Pengkajian formal terhadap nilai bisnis dari TI meningkatkan pembelajaran organisasi tentang nilai unisiatif TI sebagai enabler. Tracking process meliputi penentuan apakah penurunan biaya dan kenaikan pendapatan benar-benar terwujud. Keempat service level agreements yang meliputi daftar servis yang tersedia, tingkat kualitas alternatif, dan biaya. Kelima proses perancangan sistem informasi. Dan mekanisme terakhir yang juga penting dalam tata kelola TI adalah hubungan atau komunikasi dua arah yang efektif dan partisipasi yang baik karena seringkali terlalu sedikit kepekaan TI terhadap bisnis atau sebaliknya kurangnya apresiasi bisnis terhadap TI.

3.                  PEMBAHASAN
3.1.            PENTINGNYA PENGAWASAN PROYEK TEKNOLOGI INFORMASI
Pengawasan dalam setiap kegiatan proyek IS/IT akan mempunyai dampak terhadap setiap hasil kegiatan tersebut. Ini tidak terlepas bahwa suatu kegiatan proyek akan selalu menuju pada rencana proyek yang sudah dibuat. Tentunya dalam proses menuju ke hasil proyek perlu di buatkan metode pengawasan yang benar dan sesuai proyek IS/IT yang sedang dilaksanakan. Pengawasan akan menjadi sangat penting karena dalam proses kegiatan proyek ada yang namanya resiko dan kualitas proyek. Resiko dalam proyek IS/IT sangat rentan dan hal itu di mulai saat akan di adakannya proyek (pra - proyek IS/IT), kemudian proses proyek IS/IT waktu berlangsung, dan yang terakhir adalah saat hasil proyek akan di implementasikan pada sistem bisnis yang ada (implementasi dan proses maintenance).
 Dalam ketiga proses di atas tentunya akan berbarengan dengan kualitas sehingga akan benar-benar sesuai perencanaan proyek IS/IT yang ada. Yang perlu kita ketahui adalah dimana letak pengawasan itu harus terlibat. Keterlibatan pengawasan proyek IS/IT harus selalu total dan mendalam agar hasil proyek betul-betul baik dan benar sehingga akan bisa membuat bisnis proses semakin bagus dan untung. Keterlibatan pengawasan pada saat pra-proyek IS/IT akan sangat menentukan arah dari proses proyek akan menjadi benar atau salah. Selanjutnya keterlibatan pengawasan pada proses proyek IS/IT waktu berlangsung adalah untuk menjamin bahwa pelaksanaan proyek sudah sesuai kaidah-kaidah atau standar IS/IT yang ada sehingga pengerjaannya akan selalu berada pada jalur yang benar sehingga kualitasnya akan sesuai perencanaan proyek yang ada dan berstandar organisasi IS/IT internasional. Pengawasan proyek IS/IT yang terakhir adalah ketika proses implementasi hasil proyek ke dalam proses bisnis yang ada. Tentunya yang terakhir ini akan mudah melakukan pengawasan jika dua kegiatan yang di awal model pengawasannya betul-betul dilakukan dengan baik dan benar.
Proses implementasi tersebut akan dengan mudah di laksanakan, karena pelaksanaan proyek IS/IT sudah sesuai dengan proses bisnis yang ada dan hal ini yang berperan penting adalah pengawasan proyek IS/IT. Tentunya proses implementasi akan di barengi proses maintenance awal dari proses implementasi proyek IS/IT, dan hal ini hanya untuk memastikan bahwa tidak adanya kendala yang berarti pada proses implementasi IS/IT ke dalam sistem bisnis yang ada.

3.2.  PERBEDAAN PROYEK TEKNOLOGI INFORMASI DAN
     PROYEK LAINNYA
Dalam beberapa kesempatan pekerjaan IS/IT yang saya jalani di beberapa tempat yang berbeda, seringkali saya temukan beberapa hal yang membedakan karakteristik proyek. Pengalaman saya seringkali membuat saya untuk berfikir apa yang membedakan antara proyek bidang- bidang konstruksi dengan proyek IS/IT, adalah mutlak kita mengetahui bahwa ilmu proyek sejatinya berasal dari proyek-proyek konstruksi yang pelaksanaannya di seluruh dunia. Proyek IS/IT dengan proyek-proyek lainnya tentu memiliki ciri khas yang berbeda walaupun terdapat persamaan umum misalnya scope, cost, schedule, risiko, manajemen pelaksanaannya.
Ciri khas proyek IS/IT yang membuat beda dengan proyek pada umumnya adalah proses pembuatan proyek yang mengedepankan notasi logika yang kemudian menerapkan secara fakta pada suatu proses bisnis yang nyata (kadang notasi logika sulit di ukur). Kalau proyek lainnya cederung pada perwujudan fisik yang sangat bisa di ukur. Perwujudan fisik selalu bisa di ukur dengan cepat sehingga proyek konstruksi mudah untuk bisa di awasi, tetapi sebaliknya jika proyek IS/IT dengan kecenderungan yang susah di ukur maka proses pengawasan proyek juga tidak mudah untuk di lakukan, karena harus pas dan tepat dalam membuat metode pengawasannya.

3.3.MODEL PENGAWASAN PROYEK TEKNOLOGI INFORMASI
Dalam menentukan metode pengawasan proyek IS/IT tentunya kita harus mengadopsi dari framework PMBOK dari PMI (Project Management Institut) atau dari framework yang lainnya. Sehingga pengawasan proyek IS/IT tidak hanya mengawasi pada framework activities yang meliputi;
-   Communication
-   Planning
-   Modeling: requirements analysis and design
-   Contruction: coding dan testing
-   Deployment
Tetapi juga harus mengawasi Umbrella activities yang meliputi;
-   Software project management
-   Formal technical reviews
-   Software quality assurance
-   Software configuration management
-   Work product preparation and production
-   Reusability management
-   Measurement
-   Risk management
Sehingga proses pengawasan proyek IS/IT tidak hanya fokus pada bagaimana perangkat lunak bisa dibuat, yang resiko terbesarnya adalah hasil dari proyek IS/IT kadang tidak bisa dipakai secara total atau penyelesaiannya molor sehingga jauh dari kualitas. Inilah yang mendasari kemudian bahwa pengawasan terhadap umbrella activities menjadi sangat penting untuk dilakukan sehingga kualitas dari hasil proyek benar-benar menjadi ukuran utama untuk proyek IS/IT. Proses pengawasan ini dilakukan karena proyek IS/IT yang sebenarnya adalah susah untuk mengukur tingkat keberhasilan maupun tingkat waktu penyelesainnya. Dan proses pengawasan seperti ini akan sangat membantu pemilik proyek maupun pelaksana proyek, dimana pemilik proyek akan dengan mudah mengukur pengeluaran biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan dan implementasinya dan bagi pelaksana proyek akan lebih terarah dalam menyelesaikan proyek IS/IT yang dikerjakannya. Tugas pengawasan ini lebih pada memastikan segala aktifitas yang ada dalam proyek IS/IT berjalan sesuai koridornya, seperti di tunjukkan dalam gambar dibawah ini.

Gambar 3 : Pengawas Proyek IS/IT
Dalam proses pengawasan proyek teknologi informasi, kita harus paham dan tahu tentang proses-proses yang terjadi dalam proyek itu sendiri. Bukan saja hanya paham tentang proses pada waktu pengerjaan proyek teknologi informasi tetapi lebih dari itu bahwa kita harus tahu dan paham tentang hal-hal apa saja yang terjadi. Berikut adalah proses proyek teknologi informasi yang sering dipakai oleh pelaksana pekerjaan.
Gambar 4 : Proses Pengawasan Proyek IS/IT


4.                  KESIMPULAN

Dalam melakukan pengawasan proyek IS/IT tidak harus terjebak hanya fokus pada pengawasan aktifitas pembuatan perangkat lunak semata tetapi lebih dari itu setiap kegiatan dalam proses aktifitas proyek IS/IT haruslah mendapatkan porsi pengawasan yang tepat. Dan sifat dari pengawasan proyek IS/IT ini menyeluruh sehingga akan di dapatkan hasil proyek yang benar-benar berkualitas baik dan benar.
Proses pengawasan proyek IS/IT ini meliputi dari waktu ke waktu sehingga dengan hal tersebut fokus proyek akan bisa diperoleh dan jika terjadi kesalahan proses pengerjaannya akan cepat segera diketahui, sehingga tidak akan mempengaruhi waktu implementasi atau pergantian sistem yang lama ke yang sistem yang baru. Proses pengawasan IS/IT yang menyeluruh ini diperlukan untuk mengurangi resiko dalam monitoring and controlling proyek. Sehingga metode pengawasan akan menjadi faktor terpenting dalam menjalankan pengawasan proyek IS/IT di manapun proyek tersebut akan dilaksanakan.
Tata kelola pengawasan proyek teknologi informasi dapat dipetakan ke dalam setiap aktifitas proyek, sehingga resiko kegagalan proyek akan sangat diminimalisir dan juga aktifitas yang sedang ataupun akan mendapat hambatan proyek akan segera bisa di carikan solusi yang cepat dan tepat.


5.                  DAFTAR PUSTAKA
1.      Kathy Schwalbe. 2000. Information Technology Project Management 3th Edition. Course Technology.
2.     ANSI, “PMBOK Guide”, Edisi ke-3, American National Standard, 2004.
3.      IEEE Computer Society , “IEEE 1058-1998 Standard for Software Project Management Plans “, IEEE Computer Society, 1998.
4.      Jack T. Marchewka,Information Technology Project Management, Second Edition, Providing Measurable Organizational Value, John Wiley & Sons , 2006.
5.    De Haes, S. & Van Grembergen, W. IT Governance Structures, Processes, and relational Mechanism: Acheiving IT/Business Alignment in a Major Belgian Financial Group.
6.    Robert J. Mockler, The Management Control Process, Prentice Hall, Englewood Cliffs,1972.
7.      Willian H. Newman, Constructive Control, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New York, 1975,